Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.
Tampilkan postingan dengan label Refleksi sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi sosial. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Februari 2014
Jumat, 12 Juli 2013
INSPIRASI ORANGMUDA : Malala Yousafzai
Hari ini ditetapkan oleh PBB sebagai hari Malala, sebuah perayaan khusus bagi seorang gadis yang kini berusia 16 tahun, dan bertahun-tahun dikenal sebagai pejuang hak-hak pendidikan bagi anak-anak perempuan, khususnya di Pakistan, melawan kaum Taliban.
Senin, 17 Juni 2013
MENELANJANGI TOLERANSI PENDIDIKAN ("Semoga aku tak terbawa arus" – Refleksi Guru muda)
Ini bukan pembangkangan, ini sebuah keprihatinan, keprihatinan pada masa depan anak bangsa sebagai masa depan bangsa. Mereka menjadi korban sistem yang keliru dari penguasa dan juga naluri kepahlawan yang semu dari para pendidik di bangsa ini. Kita marah pada Negara, karena kita selalu menjadi juru kunci jika soal prestasi, tapi kita tidak pernah marah pada moralitas kita yang terlalu loyal untuk mengabdi pada kebodohan, menuhan rasa prihatin.Kamis, 17 Januari 2013
Anakku, Apakah Kamu Malu Makan Bersama Ayah?
Di sebuah kota kecil, tinggal sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, seorang anak berusia lima tahun bernama Brian dan kakek. Bisa dikatakan, keluarga ini adalah keluarga yang sibuk. Walau begitu, mereka selalu menyempatkan waktu untuk makan malam bersama. Mereka selalu makan di meja yang sama, sama seperti keluarga pada umumnya.Selasa, 15 Januari 2013
Senin, 26 November 2012
Minggu, 25 November 2012
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA?
Apa alasan seorang guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Bagi saya itu karena guru memberikan ilmu yang dia mliki tanpa mengharapkannya kembali. Yang terjadi di masyarakat tidaklah demikian, sebab makna "tanpa tanda jasa" telah dipelintir. Profesi guru tidak dihargai, kerja kerasnya tidak sebanding dengan pendapatan, semua dengan dalih "Pahlawan tanpa tanda jasa".
Profesi guru sesungguhnya ialah profesi dengan tugas dan risiko yang berat dibandingkan dengan profesi lain yang ada di dunia ini. Seorang guru salah mendidik maka anak didik akan menjadi goblok. tugas guru tidak terbatas jam kerja itulah beratnya. Ukuran minimum 30JP dalam satu minggu tidak berarti apa-apa dari realitas kerja seorang guru. Coba bandingkan dengan profesi lain, profesi yang membawa pulang tugasnya sampai ke rumah hanyalah guru. Di sekolah mengajar, urus administrasi, piket, rapat dll, setelah pulang ke rumah koreksi pekerjaan siswa yang tak terkira banyaknya.
Jadi sesungguhnya sudah sewajarlah kehidupan guru dihargai dan dimanusiakan. Pantasnya gaji seorang guru tidak lebih rendah dari gaji seorang anggota DPR. Janganlah dengan dalih pahlawan itu kehidupan guru diabaikan, ingat...! guru juga butuh penghidupan yang layak. Jangan menganggap guru yang turun ke jalan berteriak-teriak minta kenaikan gaji, sebagai guru yang tidak tahu diri (pahlawan tanpa tanda jasa). Guru turun ke jalan itu karena hidupnya sudah benar-benar di ambang kematian.
Jangan pertanyakan kepahlawan seorang guru...! tapi pertanyakan seberapa besar penghargaan kita terhadap kepahlawan guru. Ingat... guru tidak pernah berharap untuk menjadi seorang pahlawan.
Hapuslah gelar pahlawan itu, sebab dengan gelar itu, guru diperlakukan tidak sewajarnya...
Memang pantas bangsa ini disebut sebagai bangsa yang tidak pernah menghargai pahlawannya. Contoh pahlawan nasional seperti Bung Karno dan Bung Hatta butuh waktu puluhan tahun untuk menjadi pahlawan nasional. Pahlawan devisa, devisanya dapat, pahlawannya dirajam dan diperkosa di negeri seberang. Pahlawan tanpa tanda jasa, jasanya hanya dihargai di bawah upah minimum.
Rabu, 21 November 2012
Dunia Kerja Berpaling pada Karakter
![]() |
| A. Didiek Dwinarmiyadi (alumni PBI, 1977) Praktisi SDM, tinggal di Jakarta |
Walaupun pengetahuan dan ketrampilan memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan seseorang di pekerjaannya, namun belakangan diketahui keduanya bukan penentu keberhasilan. Sikap (attitude) dalam bekerja ternyata dianggap lebih menentukan. Penelitian dari David C.Mcleland (1973) menemukan bahwa kepandaian (intelligence) memang mempengaruhi kinerja, tetapi karakteristik pribadi lebih bisa membedakan antara yang berhasil dan yang tidak berhasil.
Kondisi pasar tenaga kerja
Para Manajer SDM mengeluh tidak mendapat calon tenaga kerja yang dibutuhkannya. Sebagai contoh sebuah perusahaan media di Jakarta perlu menyeleksi sekitar 100 lamaran untuk bisa memperoleh satu orang calon wartawan. Setelah mendapatkan kandidat potensial tidak berarti mereka siap kerja, perusahaan masih harus keluar biaya untuk mengadakan pelatihan sampai mereka mampu bekerja.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Antara lain karena adanya kesenjangan pada dunia pendidikan dengan dunia kerja. Memang dunia pendidikan tidak mutlak harus menyesuaikan tujuannya untuk memenuhi pasar tenaga kerja karena memang juga ada tujuan-tujuan lain. Namun harapan bahwa dunia kerja dapat memperoleh tenaga kerjanya dari lulusan perguruan tinggi adalah juga harapan yang wajar.
Sebenarnya kesenjangan yang terjadi bukan semata karena kemampuan pengetahuan dan ketrampilan yang kurang memadai. Banyak tenaga kerja memiliki IPK di atas 3 (skala 4). Namun persoalannya mereka kurang menampakkan sikap (attitude) sebagai seorang sarjana yang memiliki kemampuan memadai.. Hal ini
tampak dari jawaban-jawaban yang diberikan pada saat wawancara. Walaupun IPK tinggi, mereka tampak tidak menguasai bidang studinya sendiri (kadang dengan alasan lupa karena sudah lama). Mereka kadang kurang percaya diri, dorongan untuk berprestasi diragukan karena tidak memahami keinginannya sendiri. Kemampuan berpikir analitis dan konseptual lemah. Ini tercermin dari tutur katanya waktu menjawab yang tidak runtut dan cenderung tidak fokus pada pertanyaannya.
Demikian pula kalau kita telusur kompetensi perilaku lainnya. Rata-rata mereka memiliki kelemahan yang sama. Apakah memang tidak ada harapan? Tentu saja harapan itu ada, tetapi para Manajer SDM harus bersusah payah untuk mengadakan seleksi dengan ratio 1 : 100 atau mungkin lebih.
Kontribusi Perguruan Tinggi
Banyak usaha telah dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi untuk meningkatkan mutu lulusannya agar terserap di pasaran tenaga kerja. Mulai dari peningkatan kualitas para staf pengajar/dosen sampai memperbaiki sistem pendidikan dengan program Link and Match telah dilakukan. Kalau sampai sekarang hasilnya belum memuaskan mungkin perlu dicari faktor-faktor lain yang mempengaruhi.
Faktor lain tersebut mungkin bisa disimak dari pendapat Rektor Universitas Sanata Dharma Paul Suparno di Buku Pendidikan Manusia Indonesia. “Banyak dosen di FKIP atau universitas pendidikan yang bermutu dalam bidang keahlian mereka. Namun yang sering dikeluhkan para mahasiswa adalah sikap mereka kepada mahasiswa yang masih sering tidak demokratis, kurang terbuka, dan kurang berdialog dengan mahasiswa”. Apakah sikap dosen ini ikut menyumbang pada mutu lulusan yang lemah dalam kompetensi perilaku? Dugaan ke arah itu rasanya bisa dipahami namun untuk kebenarannya tentu saja perlu penelitian tersendiri.
Memang untuk masa sekarang ini, lulusan perguruan tinggi yang pandai dengan IPK tinggi saja rasanya tidak mencukupi. Perusahaan-perusahaan telah mulai mengidentifikasi bahwa karyawan yang berhasil bukan yang pandai tetapi justru yang memiliki karakter. Karakter atau watak yang kemudian didekati dengan istilah kompetensi perilaku (soft competencies) menjadi pertimbangan utama dalam menerima karyawan atau tenaga kerja. Untuk itu rasanya lembaga pendidikan tinggi juga perlu mempertimbangkan dengan serius bila ingin lulusannya diserap dunia kerja. Sikap atau perilaku dosen yang otoriter, gila hormat, dan mengajar hal yang itu-itu saja perlu diperbaiki. Dosen perlu memberikan contoh sebagai pribadi yang memiliki integritas, membangun hubungan interpersonal yang baik, memiliki daya analisa dan konseptual tinggi, bisa mengembangkan dirinya sendiri maupun orang lain (mahasiswa). Perguruan tinggi perlu lebih memberi perhatian pada kompetensi perilaku mahasiswanya, selain tetap meningkatkan mutu pengajarannya.
Sebenarnya Universitas Sanata dharma (d/a IKIP Sanata Dharma) telah memiliki kualitas dosen yang bukan hanya pandai dan ber mutu tetapi juga bisa memberikan contoh keteladanan dalam hal-hal yang disebut di atas. Itulah sebabnya para lulusan yang menjadi guru tersebar di hampir sekolah-sekolah yang bermutu dan favoritdi negeri ini. Demikian pula lulusan yang bergerak di bidang lain memiliki karakter pribadi yang menonjol dan bisa diandalkan.
Sumber:
KASADHAR • No. 7/Th. VII/Juli 2008 (halaman 27-28)
Kontribusi Perguruan Tinggi
Banyak usaha telah dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi untuk meningkatkan mutu lulusannya agar terserap di pasaran tenaga kerja. Mulai dari peningkatan kualitas para staf pengajar/dosen sampai memperbaiki sistem pendidikan dengan program Link and Match telah dilakukan. Kalau sampai sekarang hasilnya belum memuaskan mungkin perlu dicari faktor-faktor lain yang mempengaruhi.
Faktor lain tersebut mungkin bisa disimak dari pendapat Rektor Universitas Sanata Dharma Paul Suparno di Buku Pendidikan Manusia Indonesia. “Banyak dosen di FKIP atau universitas pendidikan yang bermutu dalam bidang keahlian mereka. Namun yang sering dikeluhkan para mahasiswa adalah sikap mereka kepada mahasiswa yang masih sering tidak demokratis, kurang terbuka, dan kurang berdialog dengan mahasiswa”. Apakah sikap dosen ini ikut menyumbang pada mutu lulusan yang lemah dalam kompetensi perilaku? Dugaan ke arah itu rasanya bisa dipahami namun untuk kebenarannya tentu saja perlu penelitian tersendiri.
Memang untuk masa sekarang ini, lulusan perguruan tinggi yang pandai dengan IPK tinggi saja rasanya tidak mencukupi. Perusahaan-perusahaan telah mulai mengidentifikasi bahwa karyawan yang berhasil bukan yang pandai tetapi justru yang memiliki karakter. Karakter atau watak yang kemudian didekati dengan istilah kompetensi perilaku (soft competencies) menjadi pertimbangan utama dalam menerima karyawan atau tenaga kerja. Untuk itu rasanya lembaga pendidikan tinggi juga perlu mempertimbangkan dengan serius bila ingin lulusannya diserap dunia kerja. Sikap atau perilaku dosen yang otoriter, gila hormat, dan mengajar hal yang itu-itu saja perlu diperbaiki. Dosen perlu memberikan contoh sebagai pribadi yang memiliki integritas, membangun hubungan interpersonal yang baik, memiliki daya analisa dan konseptual tinggi, bisa mengembangkan dirinya sendiri maupun orang lain (mahasiswa). Perguruan tinggi perlu lebih memberi perhatian pada kompetensi perilaku mahasiswanya, selain tetap meningkatkan mutu pengajarannya.
Sebenarnya Universitas Sanata dharma (d/a IKIP Sanata Dharma) telah memiliki kualitas dosen yang bukan hanya pandai dan ber mutu tetapi juga bisa memberikan contoh keteladanan dalam hal-hal yang disebut di atas. Itulah sebabnya para lulusan yang menjadi guru tersebar di hampir sekolah-sekolah yang bermutu dan favoritdi negeri ini. Demikian pula lulusan yang bergerak di bidang lain memiliki karakter pribadi yang menonjol dan bisa diandalkan.
Sumber:
KASADHAR • No. 7/Th. VII/Juli 2008 (halaman 27-28)
Rabu, 14 November 2012
Sajak Sebatang Lisong - WS Rendra
Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana
menganggur berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak m
enjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan. A
pakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977 ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi
Minggu, 11 November 2012
Kisah Bai Fang Li, Seorang Tukang Becak
BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas
sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang
naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan
imbalan uang sekedarnya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah
tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan
jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi
setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang
dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan
mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.
Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak. Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.
Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan. Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.
Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu. Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga. Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
“Uang yang saya dapat untuk makan
adik-adik saya….” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai
Fang Li.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya
pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak
pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua
adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.
Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.
Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.
Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga
anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin.
Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan
mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar
mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan
pendidikan yang layak.
Sejak saat itulah Bai Fang Li
menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam
delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang
penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis
untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan
malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat
kecilnya yang kekurangan.
Ia merasa sangat bahagia sekali
melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan
kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih
cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit
sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup
bagus… gumannya senang.
Bai Fang Li mengayuh becak tuanya
selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti,
ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari
yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya. “Tidak apa-apa saya menderita,
yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan
dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang
menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa
perduli dengan dirinya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan
tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi
memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin
itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB
500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak
dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.
Bai
Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat
menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……”
katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis. Bai Fang Li wafat
pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, Bai Fang
Li telah menyumbang di yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin sejak
tahun 1986 uang sebesar 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta untuk
menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.
Melihat
semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia
hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup
dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali
keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan
=====================
Markus
12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada
semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
Jumat, 09 November 2012
Pidato Bung Tomo 10 Nov 1945
Bismillahirrohmanirrohim.. MERDEKA...!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera puitih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana
hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya
Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah ini tentara inggris
ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian
hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita:
selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi
jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!.... MERDEKA...!!!
Selasa, 06 November 2012
BOS vs SAYA
- Jika BOS tetap pada Pendapatnya Itu KONSISTEN, Jika SAYA demikian Itu KERAS KEPALA
- Jika BOS berubah Pendapat Itu FLEKSIBEL, Jika SAYA demikian Itu PLIN PLAN
- Jika BOS bekerja lambat Itu TELITI, Jika SAYA demikian Itu BODOH
- Jika BOS bekerja cepat Itu TERAMPIL, Jika SAYA demikian Itu ASAL-ASALAN
- Jika BOS cepat ambil keputusan Itu BERANI AMBIL RESIKO, Jika SAYA demikian Itu GEGABAH
- Jika BOS melanggar prosedur Berarti INISIATIF, Jika SAYA demikian Itu TIDAK TAU ATURAN
- Jika BOS mengatakan "MUDAH" Itu berarti OPTIMIS, Jika SAYA demikian mengatakan "MUDAH" Itu SOK
- Jika BOS sering keluar kantor Itu berarti CARI PELUANG, Jika SAYA demikian Itu CARI-CARI KESEMPATAN
- Jika BOS sering Entertain Itu LOBBY CUSTOMER, Jika SAYA demikian Itu MENGHAMBURKAN ANGGARAN
- Jika BOS sering tidak masuk kerja Itu KECAPEAN KERJA, Jika SAYA demikian Itu MALAS
- Jika BOS mengirim Joke ini ke SAYA Berarti PEACE, Jika SAYA nekat mengirim Joke ini ke BOS Berarti REST IN PEACE!!
BOS = selalu BENAR
SAYA = selalu SALAH
SAYA = selalu SALAH
Minggu, 04 November 2012
KITA - Nosstress
Saat berpegangan akan lebih kuat kau berdiri
Walau hanya satu kaki.
Saat berbagi menjadi hal yang sangat dinanti.
Aku, kamu, dan teman-temanmu.
Hari ini kita bertemu,
mungkin besok kau jadi temanku.
Sekadar pertemuan tapi bukan
Itu yang kuharap.
Senyuman adalah letusan,
Kayuhan menjadi penentu
Jalan hidup di hitamnya dunia
Dan pertemuan ini jadi inspirasi antara ku dan masa depanmu.
Apa yang kudapatkan tak seberapa,
Maka yang kuberikan memang hanya sederhana,
Dan semoga saja kau tak akan lupa tentang kita.
Sumber
Puisi - Tanah Surga... Katanye... (kutip dari Film Tanah Surga, katanya)
katanya...
Bukan lautan hanya kolam susu...katanya...Tapi kata kakekku,hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.Kail dan jala cukup menghidupimu,tiada badai tiada topan kau temui...katanya...Tapi kata kakekku,ikannya diambil nelayan-nelayan asing.Ikan dan udang datang menghampirimu...Tapi kata kakekku,ssstt.. ada udang di balik batu.Orang bilang tanah kita tanah surga...katanya...Tapi kata dokter intel,yang punya surga cuma pejabat-pejabat.Tongkat kayu dan batu jadi tanaman...katanya...Tapi kata dokter intel,kayu-kayu kita dijual ke negara tetangga.Orang bilang tanah kita tanah surga,tongkat kayu dan batu jadi tanaman...katanya...Tapi kata kakekku,belum semua rakyatnya sejahtera,banyak pejabat yg menjual kayu dan batu
untuk membangun surganya sendiri...
Sabtu, 03 November 2012
Kisah Cinta Sejati Yang Menyentuh Lubuk Hati Terdalam
Pagi itu, klinik sangat sibuk, sekitar pukul.09.30 seorang pria berusia 70-an datang untuk
membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan
memintanya menunggu sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru
bisa ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar dia
melirik ke jam tangannya, saya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang
saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya lukanya cukup baik
dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan
yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter saya
putuskan untuk melakukannya sendiri.
Sambil menangani
lukanya sayaapakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru.
Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan
siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia
menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu
dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer’s, lalu saya bertanya apakah
istrinya akan marah kalau dia terlambat, dia menjawab bahwa istrinya
sudah tidak dapat mengenalinya lagi sejak 5 tahun terakhir.
Saya sangat terkejut dan berkata “Bapak masih pergi kesana tiap hari
walaupun istri Bapak sudah tidak kenal Bapak lagi?” Dia tersenyum sambil
menepuk tangan saya ” Tetapi saya masih menganali dia kan?”
Sungguh,, saya sangat terharu mendengar ceritanya, saya menahan air mata
sampai kakek itu pergi…. CINTA KASIH seperti itulah yang saya mau dalam
hidupku, diperjuangkan, memperjuangkan, penuh pengorbanan….
Dikisahkan dari seorang sahabat untuk membuka pintu hati kita…
Jumat, 26 Oktober 2012
Mulut VS Hati
ketika mulut ini mengatakan
"biasa saja" artinya hati ini merasakan sesuatu yang "tidak
biasa",
ketika mulut ini mengatakan "tidak apa-apa" artinya hati ini merasakan "apa-apa",
ketika mulut ini mengatakan "biarlah" artinya hati ini sangat "peduli",
ketika mulut ini mengatakan "ya sudahlah" artinya di dalam hati ini "belum ingin berakhir",
begitulah, mulut ini akan selalu mengatakan kebalikan dari yang dirasakan hati agar semua tetap seperti adanya.
ketika mulut ini mengatakan "tidak apa-apa" artinya hati ini merasakan "apa-apa",
ketika mulut ini mengatakan "biarlah" artinya hati ini sangat "peduli",
ketika mulut ini mengatakan "ya sudahlah" artinya di dalam hati ini "belum ingin berakhir",
begitulah, mulut ini akan selalu mengatakan kebalikan dari yang dirasakan hati agar semua tetap seperti adanya.
ketika mulut ini tidak berkata
"apa?" lagi, itulah tanda kesabaran telah "berakhir",
ketika mulut ini berkata "diam...!", di dalam hati ini "mengamuk dan bergejolak",
dan ketika hati ini benar-benar "tersakiti" dan "berteriak" meminta pertolongan,, saat itulah mulut ini akan sangat "diam"...
ketika mulut ini berkata "diam...!", di dalam hati ini "mengamuk dan bergejolak",
dan ketika hati ini benar-benar "tersakiti" dan "berteriak" meminta pertolongan,, saat itulah mulut ini akan sangat "diam"...
Langganan:
Postingan (Atom)







